loading...
Catatan Si Boy

Catatan Online Ofa Ragil Boy seputar Motivasi Kehidupan, Cerita Cinta Anak Remaja

Menu

Kisah Raeni, Putri Tukang Becak Lulus Unnes dengan IPK 3,96

Kategori Catatan: Motivasi

Lowongan Kerja Terbaru


Powered by: id.neuvoo.com

Kisah Raeni, Putri Tukang Becak Lulus Unnes dengan IPK 3,96. Di tengah ramainya pemberitaan soal pertarungan Capres-Cawapres, sosok Raeni (21) menjadi perhatian. Putri seorang tukang becak ini menjadi lulusan terbaik Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan IPK 3,96.

Mahasiswi Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) berkali-kali membuktikan prestasinya beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4, sempurna.

Saat wisuda, Raeni naik becak yang dikayuh ayahnya, Mugiyono, ke kampus. Banyak yang terharu melihat perjuangan gadis ini dan ayahnya.

Raeni pun mengaku tak mudah meraih mimpinya. Namun gadis berjilbab ini tak mau kalah oleh keadaan.

Dalam waktu 3,5 tahun Raeni menyelesaikan kuliahnya. Dia mengalahkan kemiskinan dan beban hidup. Bukti siapa yang mau bersusah-susah akan berhasil. Man Jadda Wa Jadda. Berikut kisah Raeni seperti lansir dari laman Merdeka.

Nyaris gagal kuliah karena biaya

Bagi Raeni, hasil yang diperolehnya adalah jawaban dari perjuangan panjang selama 3 tahun 6 bulan 10 hari mengenyam ilmu. Sejak di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Raeni mengaku sudah belajar dengan giat agar mendapat beasiswa.

“Alhamdulillah saya di SMK juga nilainya bagus,” ungkap bungsu dari dua bersaudara ini.

Dulu Raeni sempat terancam tak bisa kuliah. Penghasilan ayahnya sebagai penarik becak tak cukup untuk menguliahkan dirinya. Apalagi ditambah biaya indekos, makan dan pengeluaran lain. Tapi Raeni tak mau menyerah oleh keadaan.

“Saya kesana kemari mencari beasiswa tapi tidak ada yang dapat. Kemudian saya tahu Unnes masih buka pendaftaran. Saya coba daftar dan ternyata diterima,” katanya.

Nilai sempurna yang didapat Raeni menjadi kado terindah yang dia berikan untuk kedua orang tuanya. Dia membuktikan, anak seorang tukang becak pun mampu berprestasi.

“Ya walaupun bapak pengayuh becak dan ibu rumah tangga, dan sempat terkendala biaya, saya bisa buktikan hasil yang terbaik,” tambahnya.

Penghasilan ayah tak tentu

Mugiyono, ayah Raeni mengaku hanya bisa mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah agar bisa menjadi guru sesuai dengan cita-citanya.

“Sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu seperti dikutip dari situs Universitas Negeri Semarang, http://unnes.ac.id, Rabu (11/6).

Sebagai tukang becak, diakui Mugiyono, penghasilannya tak menentu, sekitar Rp 10 ribuRp 50 ribu. Karena itu, dia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp 450 ribu per bulan.

Tapi Rani tak mau menyerah. Dia membuktikan jadi yang terbaik mengalahkan para mahasiswa yang berasal dari keluarga mampu.

“Di Unnes (Universitas Negeri Semarang) itu IPK minimal 3, jadi saya berusaha sebaik mungkin, dan nggak nyangka aja hasilnya Alhamdulillah seperti ini,” ungkap Raeni bangga.

Aktif berorganisasi

Raeni berkisah soal masa-masa kuliahnya. Dia tak cuma belajar di kampus, tetapi juga aktif mengikuti berbagai organisasi. Meski sering izin kuliah, dia berusaha tetap mengutamakan belajar. Buktinya IPK Raeni nyaris sempurna.

“Saya itu kemarin sering izin kuliah karena banyak kegiatan. Ikut lomba terus ikut delegasi ke beberapa kampus, pernah ke UI, ITB, IPB, UPI, UNP,” jelasnya.

Karena mampu menjaga prestasinya, Raeni juga mendapat kesempatan praktik mengajar di Malaysia bersama dengan 14 anak di Unnes seangkatannya. Bungsu dua bersaudara ini mengaku sangat bangga dan senang mendapat kesempatan mengajar ke sana dan dibiayai sepenuhnya oleh kampus.

“Saya dua bulan praktik mengajar di Sekolah Agama Menengah Rawang, di daerah Selangor. Senang sekali di sana, pengalamannya, di sana itu anak-anak sangat menghormati pada yang lebih tua. Mereka juga rajin-rajin,” beber wanita berjilbab ini.

Satu hal yang membuatnya terkenang dari pratik mengajar di Malaysia, “Bisa bahasa melayu juga, kalau Inggris kan pasti ya” jelas bangga.

Dia berharap dengan IPK yang didapat dan pengalaman mengajar di luar negeri bisa memberikan masa depan yang cerah.

Ingin jadi guru dan belajar ke luar negeri

Raeni mempunyai cita-cita yang tak muluk-muluk, ingin jadi guru. Tapi dia pun ingin terus belajar hingga ke luar negeri.

“Sebenarnya ingin kuliah ke luar negeri, tapi ingin kerja dulu karena kuliah ke luar negeri kan butuh biaya. Jadi guru atau bidang akuntansi. Sekarang dapat rezeki, lolos tahap satu Indonesia mengajar, inginnya pilih Yogyakarta,” ujar Raeni.

Usai lulus, lanjut Raeni, untuk sementara dirinya dipercaya untuk menjadi asisten laboratorium jurusan komputer di Unnes.

“Saya dikasih kepercayaan untuk jadi asisten laboratorium jurusan dan bantu dosen ketika pratik di laboratorium komputer,” tutur dia.

Ingin punya suami saleh

Raeni dikenal pintar dan aktif berorganisasi di kampus.Namun gadis manis ini mengaku belum punya pacar.

“Belum ketemu jodohnya,” katanya malu-malu.

Raeni mengaku ingin seorang pendamping yang sholeh dan baik hati. Tapi apakah harus punya IPK 3,9 juga?

“Nggak usah. Nggak harus itu,” kata Raeni sambil tertawa.

loading...

Related For Kisah Raeni, Putri Tukang Becak Lulus Unnes dengan IPK 3,96