loading...
Catatan Si Boy

Catatan Online Ofa Ragil Boy seputar Motivasi Kehidupan, Cerita Cinta Anak Remaja

Menu

Kumpulan Kisah Pencarian Jodoh Paling Inspiratif Menyentuh Hati

Kategori Catatan: Kisah Nyata

Lowongan Kerja Terbaru


Powered by: id.neuvoo.com

Kumpulan Kisah Pencarian Jodoh Paling Inspiratif. Buat yang masih single atau jomblo, perjalanan dan perjuangan mencari jodoh bisa penuh luka. Memperjuangkan cinta pun butuh pengorbanan. Dan mungkin kita juga sudah sering mendengar kalau “jodoh nggak akan ke mana” atau “jodoh nggak akan tertukar”. Mungkin ungkapan itu klise ya, tapi begitulah adanya.

berikut ini tujuh kisah cinta menemukan jodoh paling inspiratif versi Vemale. Membaca kisah-kisah mereka bisa menghilangkan kegalauanmu. Dan kamu akan makin mempercayai arti perjuangan cinta yang sesungguhnya.

Jodohku Teman Sekelasku

Saya pasangan yang baru menikah 23 Maret 2014 lalu, ya memang baru seumur jagung. Sebelum saya memutuskan untuk menikah, saya dan suami dulu pernah satu kelas saat bersekolah di sebuah SMA di daerah Ciledug angkatan 2004.

Dulu ketika di bangku SMA, saya mengenalnya sebagai tipe pria yang pendiam dan lumayan pintar di kelas. Beda dengan saya yang supel, cerewet, dan suka mengobrol di kelas. Kami dulu bahkan tidak pernah ngobrol sama sekali meskipun berada dalam satu kelas. Pada saat kami naik kelas 2, kami tidak lagi berada dalam satu kelas, saya kelas 2 D dan dia kelas 2 F. Pada saat itu, kami sudah tak pernah lagi bertatap muka. Hingga kemudian ketika naik kelas 3, ia pindah ke SMA di daerah Jakarta Selatan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, kami pun putus kontak sama sekali.

Lalu saya menjalin hubungan dengan seorang pria. Usia kami terpaut 4 tahun. Rumah kami jaraknya hanya 1 kilometer karena kami berada di satu komplek yang sama. Jadi jika dia apel ke rumah saya tidak akan terkena macet.

Singkat cerita, lama kami menjalin hubungan sampai hampir mendekati 4 tahun, saya mencoba menanyakan keseriusan dia kepada saya. Karena waktu 3 tahun lebih sudah cukup bagi saya untuk mengenal pribadi masing-masing. Dia memberitahu saya agar sabar menunggu.

Saya mencoba sabar untuk menunggu kabar baik dari dia. Saya mencoba berkali-kali bertanya bagaimana hubungan kami ke depannya. Dan pada akhirnya dia tidak memberikan saya kepastian hubungan kami ke depannya. Saya mencoba untuk kuat mengambil keputusan mengakhiri hubungan kami yang cukup lama terjalin, setelah saya meminta petunjuk kepada Allah dan sholat istikharah.

Pada saat masih baru putus, rasanya campur aduk. Ada rasa sedih karena kehilangan, tapi di satu sisi saya harus punya hati yang kuat untuk kehidupan saya yang akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Setelah saya melewati semuanya beberapa bulan dan sudah move on, saya dapat kabar kalau mantan saya itu sudah menikah dengan wanita beranak satu. Pada saat itu saya kaget dan rasanya seperti tidak percaya. Saya mencoba tabah dan sabar karena ini sudah dibuatkan skenarionya oleh Allah.

Beberapa bulan sudah terlewati, muncullah teman saya sewaktu SMA di Yadika dulu, kami sebelumnya pernah say hello di chat facebook di tahun 2009. Tetapi entah kenapa setelah saya putus dari mantan, dia lebih sering menyapa saya di media social di tahun 2013. Dan akhirnya dia meminta nomor HP saya, dan akhirnya saya berikan. Saya pada saat itu belum memiliki perasaan yang spesial kepada dia.

Setelah kami bertukar nomor HP dan sudah sering komunikasi, entah kenapa setiap kali dia mencoba menghubungi saya lewat telepon dan juga chat, hati saya deg degan dan setelah pembicaraan selesai ada rasa seperti kehilangan dan tidak ingin terpisahkan. Kami pada saat itu belum pernah ketemu sama sekali sehabis kelas 2 SMA.

Karena memang pekerjaan dia yang sedang dinas di luar kota untuk proyek dermaga di daerah Kepulauan Riau, dan saya bekerja di Tangerang. Dan beberapa bulan sudah terlewati, entah kenapa hati saya pun terombang-ambing dengan perasaan yang gelisah juga, saya tetap berusaha meminta petunjuk kepada Allah. Apakah ini tanda-tanda jodoh saya yang di kirimkan oleh Allah.

Di tahun 2012 tepatnya pada saat Idulfitri, dia datang untuk silaturahim dengan keluarga saya. Dia hanya datang seorang diri. Ada perasaan kaget, senang, dan sedih. Sedih nya sih karena sehabis lebaran dia harus kembali bekerja lagi.

Setelah lebaran terlewati, kami pun masih berlanjut komunikasi. Dan sepertinya kami pada saat itu sudah merasa seperti jadian, meskipun tidak ada momen nyatakan cinta seperti zamannya ABG dulu. Hubungan kami pun terpaksa dilakukan secara jarak jauh. Karena lagi lagi masalah pekerjaan dia yang tidak bisa ditinggal begitu saja.

Saya masih ingat sekali, di bulan November 2013 dia menelepon saya dan mengatakan bahwa bulan Desember, keluarga intinya akan datang ke rumah saya di tanggal 25 Desember untuk silaturahim dan nembung(istilah bahasa jawa yang artinya kurang lebih untuk melamar). Sontak saya kaget, terharu dan senang. Mendengar kabar itu, saya mencoba memberitahu keluarga saya akan niat baik calon suami saya itu.

Setelah ada pembicaraan antara keluarga saya dengan keluarga calon suami saya, ditetapkanlah kami menikah pada tanggal 23 Maret 2014.

Memang singkat sekali prosesnya. Meskipun dulu pernah saling mengenal di bangku SMA, kamu baru bisa saling kenal semakin dekat hanya dalam waktu satu tahun saja.

Alhamdulilah sekarang kami sudah menikah dan sah menjadi pasangan suami istri. Sempat merasa belum percaya kalau suami saya saat ini adalah teman satu kelas pada saat waktu SMA. Dan sempat bercanda-canda, “Kok bisa ya kita ketemu begini?” Pertanyaan konyol itu sering keluar dari mulut saya. Dengan bijaksana, suami saya menjawab, “Nduk (panggilan Jawa untuk anak perempuan), itu semua sudah Allah yang atur, mungkin dulu kita cuma dipertemukan sebentar, insha allah kita dipertemukan sekarang dan seterusnya sampai ajal memisahkan kita.” Saya menangis pada saat suami saya bilang seperti itu.

Banyak pelajaran hidup yang saya ambil dari masa lalu saya, saya diberikan cobaan dan jodoh yang tertunda. Namun, Allah tahu apa yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Allah punya skenario yang lebih baik untuk saya dan suami. Dan, alhamdulilah kini Allah telah memberikan kebahagiaan dan keberkahan kepada keluarga kami.

Saya percaya semua yang ada di muka bumi ini memang sudah dibuatkan skenarionya oleh Allah. (By: Ninik Sapriyani)

Teman Curhat Jadi Suami

Kisah ini mungkin tak begitu berkesan bagi orang lain. Tapi bagiku, kisah ini adalah kisah yang selamanya tak akan pernah terlupakan.

Akhir 2008 melalui perkenalan singkat. Bahkan singkat sekali ketika seorang teman kerja mengenalkan saya pada seorang pria. Pria itu bernama Indra, pria yang memberi perhatian lebih kepadaku di saat aku menginginkan ketenangan untuk menguatkan diri dan move-on dari kisah masa laluku. Awalnya aku dan Indra hanya berkomunikasi lewat SMS. Tapi anehnya, lambat laun aku makin penasaran dengan sosoknya.

Maret 2009, pertemuan pertama kami. Setelah empat bulan berkomunikasi lewat HP, akhirnya Indra menemuiku. Ia ternyata sosok yang sopan, ramah, dan juga menyenangkan untuk diajak ngobrol. Tapi aku tetap tak berani membuka hatiku. Aku merasa sosok Indra terlalu “sempurna” untukku baik dari segi penampilan, gaya busana, dan gaya hidup. Mau menjalin hubungan dengannya? Hmm… rasanya itu hanya mimpi saja.

Setelah pertemuan pertama itu, kami tetap berkomunikasi. Lebih intens malah. Aku juga makin bingung. Kami ini hanya berteman saja tetapi kenapa perhatian yang Indra berikan seperti perhatian seorang kekasih? Pagi, siang, sore, dan malam, kami terus berhubungan. Dan parahnya lagi kami pun sering bertengkar seperti pasangan kekasih yang lain, padahal hanya dikarenakan masalah sepele.

Setiap kali Indra pulang menengok orang tuanya di Ungaran, Indra selalu menyempatkan diri untuk menemuiku di Semarang. Ya, Indra bekerja di ibu kota, jadi sebulan sekali pasti pulang ke Ungaran. Tetapi lima bulan berlalu setelah pertemuan pertama itu dan pertemuan-pertemuan selanjutnya malah tidak ada pembicaraan mengenai kepastian hubungan kami. Karena hal itulah, aku memberanikan diri membuka hati menjalin hubungan dengan lelaki lain yang berniat serius denganku.

Baik yang memang asli melalui perkenalan langsung denganku hingga perjodohan dari orangtua. Tetapi tetap aku tidak bisa melupakan atau pun menghapus Indra dari pikiran dan juga hati. Mungkin menurut pandangan orang lain, aku adalah perempuan yang tidak baik karena berhubungan dengan lebih dari seorang pria dalam waktu bersamaan. Dan entah kenapa Indra lah yang selalu kujadikan tempat curhat segala sesuatu yang aku alami, baik masalah dengan orangtuaku ataupun tunanganku. Entah kenapa juga Indra selalu ada untukku. Hanya Tuhan yang tahu, itu pikirku.

Bulan berganti tahun hingga akhirnya di tahun 2010 tepatnya bulan September, pada saat dua bulan menjelang pernikahanku, pertunanganku dibatalkan karena memang tidak ada rasa cinta diantara aku dan tunanganku. Dan aku pun tetap berkomunikasi dengan Indra, hingga akhirnya bulan Oktober 2010, Indra memintaku untuk menjadi kekasihnya. Akhirnya, perasaan yang aku pendam bisa terungkap, itu yang dikatakan Indra setelah mengungkapkan isi hatinya sambil menunggu jawabanku. Tentu saja hal ini aku jawab sambil tersenyum dan mengangguk.

Menjalani kisah cinta LDR baru pertama ini kurasakan, terpaan rindu di tengah rutinitas pekerjaan yang padat di Semarang. Berat memang tapi Tuhan selalu memberiku kekuatan dan kesabaran menjalaninya. Indra juga berusaha menjaga hatinya di sana. Pertemuan sekali sebulan pun kami manfaatkan sebaik-baiknya. Tidak jarang aku izin dari pekerjaan di hari Sabtu demi bisa memanfaatkan waktu untuk bersamanya.

Maret 2012, Indra meminangku. Antara percaya dan tidak, tapi itulah yang memang aku tunggu selama ini. Setelah meminta restu Mama dan Papa, kami langsung berjibaku menyusun acara pernikahan, di tengah jalinan hubungan jarak jauh dan rutinitas pekerjaan serta kuliah D4 yang ditempuh Indra yang sangat menyita waktu.

Tiga bulan, waktu yang terbilang cukup singkat untuk menyiapkan pernikahan. Capek, marah, emosi, dan galau. Semua campur aduk jadi satu. Mama sampai harus diopname karena ikut stres menyiapkan acara pernikahan untukku. Sabar dan sabar, kami pun akhirnya bisa menyiapkan semua dengan baik.

Dan, 3 Juni 2012 jadi hari paling bersejarah dan terindah untukku dan Indra. Di hari itu, kami resmi menjadi suami istri. Alhamdulillah… Terima kasih, ya Allah. (By: Nita)

Awal Ramadan Jomblo, Setelah Ramadan Menikah

Ramadan tahun 2013 menjadi Ramadan paling mengesankan di hati saya. Awal Ramadan saya berkenalan dengan seorang lelaki tanpa ada niat ataupun pikiran akan menikah, dan setelah Ramadan, kami melangsungkan pernikahan. Sebuah pencarian panjang, bertahun-tahun, dan pada akhirnya, proses menemukan jodoh terbaik tidak sampai 2 bulan.

Awalnya, saya menetapkan untuk menikah di usia 23 tahun. Namun sayang, kekasih hati yang dekat dengan saya sejak usia 17 tahun memutuskan saya menjelang usia 22 tahun. Yang paling menyakitkan, saat saya membicarakan rencana menikah dengannya, dia mengaku belum siap dan memutuskan saya. Namun, tidak sampai setahun kemudian, dia justru menikah dengan wanita lain.

Tak cukup sampai di sana sakit hati saya. Entah mengapa, istrinya merasa cemburu pada saya. Ia sering menelepon saya, menghina dan memaki saya, juga mengejek dan menertawakan saya karena gagal menikah dengan lelaki tersebut. Saya pun semakin terpuruk, apalagi mantan saya tersebut tak menghentikan sikap istrinya yang meneror saya.

Sakit hati membuat saya susah move on. Sekitar 4 tahun saya sulit mencari lelaki lain. Hingga di usia 27 tahun, saya mulai tertarik dengan teman dekat.
Kedekatan dan perhatiannya membuat saya berani berharap untuk segera menikah. Apalagi, adik dan kakak saya semua telah menikah. Namun saya lagi-lagi masih harus bersabar. Tiba-tiba saja sikapnya berubah.

Di pagi hari sikapnya masih hangat, namun di malam hari, ia menjauhi saya. Saya berusaha menanyakan alasannya, namun ia hanya meminta saya untuk tidak terlalu mendekatinya. Belakangan, saya mendengar kabar ia dicomblangin dengan teman sekantornya dan mereka akan menikah. Saya juga mendengar selentingan bahwa ia menjauhi saya karena sahabatnya menyukai saya.

Seiring waktu, saya pun dekat dengan pria lain. Namun lagi-lagi, setelah kedekatan kami yang saya sangka akan segera berakhir di pelaminan, lelaki ini juga tiba-tiba menjauhi saya. Saya pun mendengar selentingan yang sama, ia menjauh karena “dihasut” sahabat teman saya dulu, yang kabarnya menyukai saya (belakangan ia pun mengakui kebenaran kabar tersebut).

Frustasi karena gagal terus dengan alasan yang sama, saya mencoba berbicara dengan sahabat teman saya tersebut. Ia terus terang mengaku menyukai saya dan ingin menikahi saya. Karena memang saya sangat ingin menikah, maka saya katakan bahwa saya bersedia dan ia sebaiknya segera menjumpai orang tua saya, apa jawabannya?

“Wah, kamu pikir saya serius? Saya cuma bercanda kali.”

Sakit hati yang teramat dalam pun saya rasakan. Bukan karena merasa patah hati, tapi merasa dipermainkan. Namun saya tak ingin menyerah. Saya ingin menikah! Maka segala cara pun saya tempuh. Dijodohkan orang tua, gagal. Dijodohkan teman, gagal juga. Mencari sendiri, cowoknya nggak maju-maju. Ia masih punya rencana yang ingin diwujudkan sebelum menikah. Saya tak mau menunggunya terlalu lama, dan ragu melihat kesiapannya.

Harapan itu pun mulai padam. Saya mulai lelah. Apalagi usia sudah hampir kepala tiga. Melihat kekalutan saya, orang tua bahkan sampai berpesan agar saya fokus ibadah saja. Gambarannya, dengan usia rata-rata manusia hanya 60 tahun, maka saya hanya punya sisa waktu 31 tahun lagi jatah hidup. Daripada sibuk cari jodoh, cari saja berkah untuk akhirat. Di tengah keputus asaan saya, saran ini pun saya terima. Saya putuskan berhenti mencari jodoh, fokus saja pada ibadah.

Tak disangka, saat saya sudah berhenti berharap, Allah justru mempertemukan saya dengan lelaki yang kini menjadi suami saya. Dengan cara yang mudah dan tak disangka-sangka. Mungkin benar kata orang kalau tak dicari-cari, biasanya apa yang kita harapkan justru akan datang sendiri. Atau juga seperti kata yang lain, yakni dekatkan diri pada Allah, maka Ia akan memenuhi kebutuhan dan harapan kita tanpa kita ucapkan langsung. Banyak juga yang sering ungkapkan bahwa berharaplah hanya pada Allah, jangan pernah berharap pada manusia, sebab Allahlah yang menggerakkan hati dan langkah manusia.

Seminggu menjelang Ramadan 2013, saya berkenalan dengan seorang pria yang menjadi panitia pada kegiatan kantor untuk menyambut Ramadan. Dalam tempo tiga minggu saja, ia telah mengenalkan saya pada keluarganya dan mengajak saya menikah setelah Ramadan. Tentu saja saya terkejut. Sebab, awal perkenalan kami, saya tidak berharap terlalu banyak padanya. Alasannya, ia lebih muda 3 tahun dari saya. Kami pun tak pernah membicarakan masa depan. Mengapa ia tiba-tiba melamar saya?

Saat saya tanyakan pada orang tua, rupanya mereka langsung setuju, bahkan menyukai kesiapan dan keberanian lelaki ini walau belum bertemu dengannya langsung. Akhirnya, selesai Lebaran, dalam tempo 2 minggu, kami siapkan pernikahan kami. Alhamdulillah, banyak yang turut senang dan ikut membantu, sehingga walau mendadak dan dalam tempo sangat singkat, kami dapat menggelar resepsi dengan cukup meriah.

Banyak sahabat yang menyatakan bahwa pernikahan saya ini adalah berkah Ramadan. Awal Ramadan belum terlihat tanda-tanda akan menikah, namun setelah Ramadan, saya telah bersanding di pelaminan. Yang pasti, dari perbincangan kami setelah menikah, saat memutuskan menikah, kami belum saling mencintai. Kami menikah karena dari obrolan diketahui bahwa kami sama-sama tidak mau pacaran, sama-sama ingin menikah dengan mudah tanpa banyak syarat, dan sama-sama ingin fokus pada ibadah.

Inilah dasar kesepakatan kami untuk menikah, yang kami yakin menjadi pondasi kuat untuk membangun cinta kami yang berkah setelah berumah tangga. Amin..

Dan di Ramadan berikutnya, Ramadan 2014, tak hanya bersama suami, saya pun telah menjalaninya bersama putri kami tercinta. Alhamdulillah..

Dulu Saya Kekasih Suami Orang

Saya seorang ibu bekerja dan mempunyai putri yang baru berumur 21 bulan. Sebenarnya cerita ini berawal ketika saya belum menikah, penantian panjang menunggu jodoh yang sreg belum juga kesampaian membuat saya seakan putus asa. Pacaran yang lama tak menjamin juga akan berjodoh, begitu juga saya.

Sebelumnya saya memang berpacaran dengan seorang pria beristri beranak dua. Walaupun awalnya iseng ternyata saya terjerat juga oleh cinta pria dewasa, mapan & sukses. Saat itu rasanya saya sulit untuk bisa lepas dari kebaikan, kharisma dan perhatian yang dia berikan kepada saya, rasanya hampir semua wanita juga ingin mendapatkan pendamping hidup seperti itu. Hari demi hari, bulan dan tahun kami jalani tak terasa hampir menginjak 6 tahun saya bersamanya. Walaupun saya sadar ada hati dan keluarga yang terluka, tetap saja tidak menghentikan langkah saya. Bahkan saya berkeinginan sekali untuk menikah dengan dia karena waktu itu saya sangat mencintai dia.

Saya sempat berkenalan dengan istri dan keluarganya sebagai teman, sampai pada akhirnya kebohongan kami terkuak juga. “Serapi-rapinya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga” mungkin itu istilah yang tepat. Cacian dan makian pernah saya terima walaupun tidak secara langsung ketika istrinya mendamprat saya. Dari situ saya termenung, bagaimana kalau yang berada di posisi istrinya itu adalah saya, atau kakak, bahkan ibu saya. Apa iya saya mau menikah dengan lelaki yang lebih dewasa dari saya bahkan suami orang. Apa kata teman-teman, saudara dan keluarga nantinya. Akhirnya kata putus adalah jalan terbaik.

Akan tetapi itu tak berlangsung lama karena kami memang tidak bisa berjauhan saat itu. Rasanya dunia tidak lengkap tanpa dia. Akhirnya saya jalani kembali hubungan itu dengan harapan akan ada jalan keluar yang lebih baik. Dia pernah bilang pasti akan memilih saya dan akan mengutarakan kepada ortu saya di saat yang tepat. Hampir setiap kami jalan bersama ke mall, makan dll rasanya hati saya tidak tenang, saya takut akan ada yang melihat walaupun saya sadar Allah Maha Tahu. Rasanya salat, puasa dan ibadah lainnya tak membuat saya malu kepada Allah, bahkan di sela-sela doa, saya selalu meminta kepada-Nya agar jodoh saya adalah dia dan bisa diberikan jalan terbaik.

Ketika dorongan dan tekanan dari berbagai pihak lingkungan serta keluarga begitu hebat untuk segera menikah. saya jadi ingat tausyiah ustaz Mansyur, intinya “Kalau minta apa-apa jangan sama orang, minta sama Allah yang punya segalanya”. Hingga pada suatu malam Idul Fitri tahun 2012 bertepatan dengan ulang tahun saya, saya salat tahajud meminta petunjuk dan mencoba mengadu, meminta dengan paksa kepada Allah. Kali ini tidak dengan kata-kata jodohkanlah saya dengan dia tapi “Berilah saya jodoh yang terbaik yang bisa membimbing saya ke jalan-Mu, seandainya dia bukan jodoh saya berilah saya jodoh dari orang yang sudah saya kenal baik,” itu doa saya waktu itu.

Hanya selang beberapa hari setelah lebaran di tahun yang sama saya bertemu dengan mantan kekasih saya sewaktu SMA, saya cerita banyak terutama pasangan kami masing-masing. Tak lupa saya salat istikharah meminta petunjuk-Nya agar saya tidak salah pilih antara pacar saya yang sudah lama atau mantan kekasih saya yang baru saya kenal kembali.

Allah memberikan jalan kepada setiap umat-Nya yang mau berusaha. Pada akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Ya menikah, tanpa melalui pacaran lagi. Hanya selang 1 bulan akhirnya saya menikah dengan suami saya saat ini. Bukankah Islam tidak mengenal istilah pacaran juga, tentu banyak pertanyaan/tanggapan miring yang menghampiri saya karena lebih memilih pria yang sekarang menjadi suami saya dengan status single/bujang dari pada pacar saya sebelumnya yang mapan.

Niat saya waktu itu hanya untuk ibadah, Insya Allah materi, kesuksesan dan yang lainnya mengikuti, itu keyakinan saya, karena kita tidak bisa menunggu dengan harapan/waktu yang tak pasti.

Bagaimanapun hidup adalah pilihan, ketika kita ingin menjadi lebih baik berusahalah dengan baik. Saya merasa lebih tenang dengan menikah, walaupun kami belum bisa seperti pasangan saya yang dulu tapi saya selalu merasa cukup bahkan lebih. Semoga kita selalu diberi keberkahan dan kemudahan dalam setiap langkah kita, amin.

Memantaskan Diri untuk Jodoh Terbaik

Aku seorang wanita berusia 23 tahun, masih muda kata orang, tetapi aku berani memutuskan untuk menikah. Kata orang di zaman sekarang, usia 23 masih terlalu muda dan masih anak-anak. Tapi aku tidak peduli, karena kedewasaan bukan diukur dari berapa banyak usia. Kedewasaan dilihat dari cara bersikap saat menghadapi masalah dan berperilaku.

Sebelumnya aku pernah mengalami “Fase Pacaran” hingga 6 tahun lamanya, dan itu adalah perbuatan yang sangat aku sesali sampai sekarang. Kenapa? Karena bukan dengan orang yang menjadi suamiku sekarang, pria itu adalah orang lain yang sekarang menganggap aku sebagai musuhnya. Memang, soal jodoh, Allah yang mengatur, sekuat apapun manusia berencana dan berkeinginan, jika Allah tidak berkehendak semuanya tidak mungkin terjadi.

Dari awal keluargaku memang menentang hubungan ini, alasannya hanya mereka yang tahu. Sampai puncaknya orang tuaku berkata “Jika kamu tetap memilih dia dan menikah, bapak tidak akan menganggap kamu sebagai anak, kamu harus pergi dari rumah ini,”. Hancur hati aku mendengar ucapan bapak, semarah itukah orang tuaku?

Setelah itu aku berani mengambil keputusan, tak sampai hati aku membuat orang tuaku kecewa, dan aku berjanji akan menjadi anak yang berbakti pada mereka. Aku berpikir, sebagai anak pertama dan paling besar sepatutnya aku memberi contoh kepada adik-adikku.

Setelah kejadian itu, setiap hari sang “mantan pacar” meneror aku dan keluarga, sampai-sampai dia mendoakan keburukan untuk keluarga kami terutama untuk Bapak, karena dia dendam cintanya tidak direstui.

Seiring waktu berjalan, aku ingin menjadi lebih baik dan mencari pengganti. Selama proses pencarian jati diri dan calon suami, banyak laki-laki yang mendekatiku. Aku pilih salah satu di antara mereka, ternyata aku dikecewakan dan dimanfaatkan. Dia bosan setiap kali aku menyinggung tentang pernikahan. Ternyata dia belum siap menikah, impian dia mempunyai rumah sendiri sebelum menikah. Dan aku tahu pekerjaan pun dia tak punya.

Aku tetap membuka hati dan diri untuk yang lain, sampai dengan lelaki terakhir yang aku kenal yaitu “Mantan Cinta Monyet”. Belum jodoh, hubungan kami berakhir sama mengecewakannya dengan hubungan sebelumnya.

Ada rasa putus asa dalam dada, siapa yang akan jadi suamiku kelak? Sedangkan teman lelaki yang aku kenal semuanya mengecewakan. Mungkin ini jalan Allah untukku, sebelum aku menemukan orang yang tepat aku harus bertemu dengan orang yang salah agar aku bisa belajar dari perjalanan hidup ini. Alhamdulillah doaku terkabul sesuai keinginanku.

Teringat pesan teman, jika punya keinginan menikah tetapkan dalam hati dan banyak berdoa. Sejak saat itu aku berdoa dan meneguhkan niat. Aku ingin menikah di usia 23 tahun, dan aku ingin menikah tahun depan (2015).

Tepatnya Idul Fitri tahun 2014 kemarin, Allah mempertemukan aku dengan orang yang menjadi suamiku sekarang. Pertemuan yang singkat tapi bermakna, banyak orang yang mendoakanku agar berjodoh dengan dia (suamiku), mulai dari tetangga, saudara, kakek nenek, dan teman-teman. Benar apa kata hadis Rasulullah, rida nya orang tua adalah rida Allah.

Begitu lancar niat baik kami, 3 bulan perkenalan dia dan keluarganya datang melamarku. 9 bulan dari perkenalan, kami memutuskan untuk menikah. Belum setahun kenal memang, kami mantap untuk mengambil keputusan ini.

Idul Fitri Tahun ini, 1 Syawal 1436 H aku tetapkan sebagai hari bersejarah kami untuk 1 tahun pertemuan kami.

Untuk Anda yang saat ini masih menanti jodoh terbaik, yakinlah, dia akan datang. Jika kita memantaskan diri dan bersabar, Allah akan memberikan orang yang terbaik untuk kita. Jadilah anak yang berbakti dan patuh kepada kedua orang tua, karena jika hati mereka senang banyak kebaikan untuk kita secara tidak langsung.

loading...

Related For Kumpulan Kisah Pencarian Jodoh Paling Inspiratif Menyentuh Hati